Sumbangan Peradaban Khilafah Islam Dalam Dunia Kedokteran
Banyak naskah berserak yang mengungkapkan temuan sejumlah penyakit mental dan syaraf di masa Turki Ottoman.
Perkembangan ilmu pengetahuan terus melaju di masa Islam. Beragam temuan di berbagai bidang terungkap pula. Demikian pula yang terjadi di bidang kedokteran atau pengobatan. Pada masa Turki Ottoman, tabib Muslim menemukan sejumlah penyakit mental dan syaraf (neurologis).
Ada banyak naskah berserak mengenai penemuan jenis penyakit tersebut. Ada pula naskah yang hilang akibat penghancuran saat wilayah Islam diinvasi. Di sisi lain, terdapat naskah yang hancur karena ditelan masa. Namun, ada sejumlah naskah yang bisa terselamatkan.
Naskah yang mengungkap temuan-temuan itu dibuat antara abad ke-15 dan ke-18. Sejumlah penyakit mental dan syaraf yang dijelaskan dalam naskah itu, di antaranya ihtinak rahm (histeris) dan hafakan atau yurek oynamasi (kegelisahan ).
Di samping itu, ada pula beberapa penyakit suciye muptela olanlar (kecanduan alkohol), afyonkesler ve berse muptel olanlar (kecanduan opium), dan kecanduan tembakau yang sekarang orang yang mengalaminya sering disebut sebagai perokok akut.
Dalam naskah medis itu, terungkap pula penyakit yang disebut teza’zu-i dimag (cedera kepala traumatis). Hal ini bisa terjadi jika seseorang jatuh dari tempat yang tinggi, mendapat pukulan keras di kepala, dan jika kepala dipukul dengan keras berkali-kali saat berkelahi.
Penyakit mental yang disebutkan dalam naskah medis ini, termasuk dalam pembahasan penyakit kepala yang disebut dengan sersam. Secara etimologi ser itu berarti kepala dan sam berarti bengkak. Gejala utama penyakit sersam adalah kebingungan pikiran.
Gejala lainnya, mereka yang menderita penyakit itu, selalu berbicara melantur dan tak jelas, merasakan demam, dan tubuh gemetar. Ada jenis sersam lainnya yaitu feranitis. Penyakit ini merupakan pembengkakan pada selaput otak. Di dunia kedokteran modern disebut meningitis.
Tipe lain dari sersam adalah demevi verem (flegmoni) yang merupakan penyakit berupa peradangan pada otak. Penyakit itu, sering disebut ensefalitis. Beberapa gejalanya, antara lain, wajah dan mata pasien berubah menjadi merah, mata lebih menonjol, dan sakit kepala hebat.
Selain itu, pasien terus merasa terganggu, kejang-kejang, mudah mengantuk, dan muntah-muntah. Jenis terburuk dari sersam adalah subari yang dalam bahasa Turki disebut ifratla olan sersam-i tiz. Gejala utama subari adalah divanelik (kegilaan) dan asuftelik (kegelisahan).
Gejala lainnya, penderita tak dapat tidur dengan baik, mengalami mimpi buruk, lalu terbangun dalam keadaan ketakutan yang luar biasa, matanya kadang berubah menjadi merah darah, kadang-kadang bagian putih dari matanya menjadi kuning, gerakan matanya lambat, dan melantur.
Pada awalnya penderita subari merasa sangat gelisah, tetapi rasa gelisah itu kemudian menurun hingga dia hampir tidak dapat membuka matanya, mengalami demam tinggi, lidah bengkak, mulut kering, denyut nadi semula cepat dan kuat tetapi kemudian menjadi lemah dan lambat.
Napas penderita penyakit ini, semula kuat tetapi kemudian melemah, merasa seperti sakit di leher sehingga tampak pembuluh darahnya sedang tegang. Jenis terakhir sersam adalah soguk sersam (sersam dingin). Ini merupakan jenis sersam tanpa demam.
Dalam bahasa Arab-Turki, penyakit ini sering disebut nisyan dan unutsaguluk yang berarti kelupaan. Gejala utama dari sersam dingin adalah pelupa. Beberapa gejala khusus dari sersam dingin, antara lain, sakit kepala ringan tanpa disertai demam.
Selain itu, gejala lain yang menyerang penderita adalah perasaan mengantuk yang sangat kuat, mengalami lupa pada tingkat yang ekstrem, lambat dalam bergerak, denyut nadi perlahan-lahan dan ringan, sesak napas, sering menguap, dan memiliki air liur berlebihan.
Penderita penyakit ini, mengalami pula kebingungan dan tak mampu membedakan antara baik dan buruk. Penyakit ini seperti gejala penyakit demensia. Naskah medis tersebut, juga menjelaskan mengenai penyakit humre dan demregu, yang masuk kategori penyakit yang menyerang otak.
Tak ada penjelasan yang lengkap dan perinci apakah humre dan demregu termasuk dalam jenis sersam atau tidak. Namun, dalam kamus disebutkan bahwa humre adalah erysipelas (api luka) yang dalam bahasa Turki disebut yilancik, alazlama.
Sedangkan demregu merupakan penyakit yang disebut dengan tarama sozlugu atau penyakit lumut. Penyakit tersebut memiliki tiga gejala yang berbeda di antaranya, sakit kepala, merasakan kepanasan, merasakan kedinginan pada kulit wajah, dan warna mata kekuning-kuningan.
Lalu, dari waktu ke waktu wajah penderita memanas dan matanya menjadi merah. Penderita akan merasa demam dan gemetar. Bahkan, demam dan gemetar itu Jauh lebih hebat daripada penderita penyakit flegmoni. Sebagian besar dari mereka akhirnya meninggal dalam kurun tiga hari.
Jika mereka mampu menghadapi masa kritis dan sanggup bertahan selama tiga hari, mereka memiliki banyak harapan hidup. Penyakit tersebut kemungkinan menyebabkan komplikasi ketika dibiarkan tanpa pengobatan yang baik, efektif, dan teratur.
Melatih Para Calon Tabib
Perkembangan di bidang medis, tak terjadi begitu saja. Demikian pula dengan sejumlah penyakit yang berhasil diidentifikasi dan ditemukan para tabib Muslim di masa Turki Ottoman. Ada konsep dan metode yang memang diterapkan untuk melakukan pelatihan bagi mereka yang bergelut di bidang medis.
Selain para tabib, yang sering pula disebut sebagai ahli penyakit dalam, ada pula spesialis lainnya misalnya di bidang bedah, orthopedist, herbalis, dan mereka yang memiliki spesialisasi lainnya yang terkait dengan layanan kesehatan publik. Mereka mendapatkan pelatihan dan pendidikan dengan cara yang berbeda-beda.
Dokter atau tabib, memiliki posisi tertinggi dalam kelas pelatihan. Mereka biasanya mendapatkan pengajaran di sebuah madrasah dan dar al-shifa atau rumah sakit. Di rumah sakit Ottoman, seperti di Rumah Sakit Seljuk Kayseri (1205-6), mereka mendapatkan pelatihan baik dalam bentuk teori maupun praktik.
Seseorang yang ingin menjadi tabib disebut talib dan mereka yang menjadi siswa madrasah yang kelak menjadi tabib disebut shaqirdi tabib. Mereka mempelajari sejumlah kasus klinis di rumah sakit dan belajar tentang teori pengobatan di madrasah, juga membaca manuksrip medis di perpustakaan.
Untuk memberikan pelatihan yang baik, Pemerintah Ottoman melakukan sejumlah langkah. Di antaranya adalah membangun sejumlah rumah sakit baru. Salah satu rumah sakit yang dibangun untuk keperluan itu adalah RS Bursa (1399), yang merupakan bagian dari kompleks Sultan Yildirim, di mana para siswa kedokteran mendapat pelatihan di sana.
Sejumlah kalangan menyebutnya sebagai dar al-tib atau sekolah kedokteran. Ada pula Rumah Sakit Fatih (1470) yang terletak di Istanbul. Mereka yang mengajar kedokteran disebut darsiam dan para siswa kedokteran disebut dengan tabib shaqirdi.
Sebuah sekolah kedokteran yang terpisah didirikan di Kompleks Suleymaniye (1556-7), di mana kedokteran menjadi sebuah disiplin ilmu yang independen. Para siswa kedokteran yang belajar di sekolah tersebut melakukan praktik kedokteran di rumah sakit yang ada di dekat sekolah tersebut.
Mereka tak hanya mendalami ilmu kedokteran tetapi juga mempelajari hukum Islam, filsafat, literatur, dan bahasa Arab. Bahkan, mereka juga mesti mampu menguasai beragam ilmu pengetahuan. Biasanya, selama pendidikan di madrasah mereka dibekali berbagai ilmu itu sebelum melakukan praktik di rumah sakit.
Sejarah Beralihnya Kedokteran Islam Menuju Kedokteran Eropa
foto: Toledo, Andalusia (www. google.com)
Medicalzone.Org - Semoga catatan kecil ini dapat membuka cakrawala berpikir dan menggugah akal serta nuarni pembacanya, sehingga mutiara kecemerlangan kaum muslimin tidak terus tenggelam, akan tetapi dapat bangkit kembali dengan nafas dan optimisme yang baru
Pada abad ke-5 H, runtuhlah kemegahan Yunani dan kecongkakan Romawi di Eropa, filsafatnyapun sudah diambil alih pendeta-pendeta Nasrani yang berpaham jumud,takhyul, dan khurafat. Pada saat itu, Eropa sama sekali tidak mengenal ilmu kedokteran, yang ada hanya ilmu perdukunan dan pendeta Nasrani. Jika ada seorang rahib, iapun merangkap sebagai dukun. Diantara cara pengobatan yang dilakukan adalah dengan getaran tangan yang disebut Getaran Kasih. Rahib/dukun biasanya memejamkan matanya, kemudian pasien diraba dan dijengkali untuk mengetahui jenis penyakit yang dideritanya, lalu ia disuruh jongkok di bawah bayangan salib, dan diberi ramuan sambil dijampi. Begitulah yang dilakukan pendeta-pendeta Nasrani pada saat itu.
Seorang lulusan sebuah sekolah kedokteran bernama Constatin African dari Tunis menetap di Salerno dan mendirikan sebuah lembaga kedokteran yang ”meniru lembaga kedokteran di negeri Islam”. Ia juga menjadi pendeta di biara Monte Casino di Campiana sambil menerjemahkan kitab-kitab kedokteran dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Ia ”menyalin kitab-kitab kedokteran bahasa Arab ke dalam bahasa Latin” seperti kitab-kitab Hunain, Ishaq Juda, dan Ar-Razi dengan bantuan seorang Turki. Semua hasil terjemahan tersebut diakuinya sebagai karangan sendiri.
Pada tahun 463 H, kota Toledo (Andalusia, Spanyol) jatuh ke dalam kekuasaan Nasrani, Al-Jami’ah di Toledo dirampas, umat Islam yang tidak mau masuk Nasrani, dibunuh dengan sangat kejam, dibakar hidup-hidup, dicincang, disula, digergaji, diberikan pada Anjing dan banyak kekejaman-kekejaman lainnya. Orang islam yang lemah terpaksa murtad masuk Nasrani yang dijuluki dengan Mozarabes, diantara mereka terdapat banyak ilmuwan. Al-Jami’ah di Toledo, tetap berjalan, kitab-kitab syari’ah dibakar habis, yang tertinggal hanya sebagian kitab-kitab yang tidak syar’i.
Setelah Toledo menjadi ibu kota kerajaan Nasrani, seseorang yang bernama Archdeacon Dominico Gundisalvi, seorang ilmuwan yang mendirikan lembaga penerjemah, walaupun dewan gereja kurang menyepakatinya. Usaha penerjemahan ini akhirnya diikuti oleh negeri-negeri lainnya, diantaranya adalah :
1. Ibnu Dawud, disebut Avendeath, Abbink Deet atau Abindit. Ia seorang Yahudi Muslim, memahami bahasa Yahudi, Arab, Spanyol dan Latin. Ia berhasil menerjemahkan lebih dari 10 kitab besar berbahasa Arab yang kebanyakan adalah kitab ilmu falaq.
2. Gerar Cremona, seorang Yahudi kelahiran Cremona Italia pada tahun 492 H, telah menerjemahkan kitab-kitab kedokteran, farmasi, filsafat, dan matematika dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin yang hampir mencapai 80 kitab.
3. Abin Marki atau yang dikenal dengan Mark, seorang Yahudi Toledo, sahabat Gerar yang mampu berbahasa Yahudi, Spanyol, Arab dan Latin. Ia telah menerjemahkan kitab-kitab Ar-Razi, Hunain, dan Az-Zahrawi ke dalam bahasa Latin
4. Rufino, seorang Yahudi Italia, berhasil menerjemahkan karangan Hunain menjadi ”Questiones Medicae”, tediri atas beberapa jilid.
5. Abolard Bath, seorang Yahudi pembawa ilmu pengetahuan Islam ke Inggris, ia lulusan al-Jami’ah di Taledo, di inggris ia termasuk perintis Universitas.
6. Petrus Alphonsi, seorang tabib murtad kelahiran Toledo, berkebangsaan Arab. Ia bermukim di Inggris menjadi tabib istana Raja Henry I, ia menyebarkan ilmu pengetahuan Islam dan mendirikan sebuah universitas. Orang-orang keturunan Arab di Andalusia tetap dicurigai walaupun mereka sudah murtad dan memeluk Nasrani. Akhirnya karena tertekan, mereka pindah ke negara lain seperti ke Prancis, Jerman, Belanda dan Inggris. Keluarga Morris, yang terkenal di Inggris adalah keturunan mereka.
7. Faragutt, seorang Yahudi dari Girgenti, menerjemahkan kitab-kitab ilmu pengetahuan Islam untuk Raja Charles Anjou (tahun 1266-1285 M).
8. Mikail Sukuti, yang terkenal dengan nama Michael Scot, seorang Yahudi yang meninggal pada tahun 613 H, ia menjadi penerjemah di istana Raja Frederick II. Ia menerjemahkan Kitab al-Hayawan karangan Ibnu Sina ke dalam bahasa Latin menjadi ”De Animalibus” pada tahun 610 H.
9. Stephen, seorang tabib keturunan Yahudi yang berasal dari Pisa Italia, yang bermukim di Antiokia pada tahun 505 H. Ia menerjemahkan karangan Ali Abbas menjadi ”Liber Regalis”. Ia bermukim di Salerno dan menjadi guru besar di Sekolah tinggi Ilmu Kedokteran Salerno yang menjadi pendidikan Ilmu Kedokteran pertama di Eropa yang meniru Sekolah Kedokteran Iskandariah.
Abu Ali al Husain ibn Abdullah ibn Sina adalah nama lengkap Ibnu Sina, yang lebih dikenal sebagai “Avicenna” oleh masyarakat barat. Dia adalah salah seorang jenius yang mahir dalam berbagai cabang ilmu. Dialah pembuat ensiklopedi terkemuka dan pakar dalam bidang kedokteran, filsafat, logika, matematika, astronomi, musik, dan puisi.
Beliau dilahirkan pada tahun 370 H/980 M di Afsyinah, yaitu sebuah desa yang terletak dekat dengan Bukhara (Republik Uzbekistan). Ayahnya, Abdullah, adalah seorang Gubernur Samanite yang kemudian ditugaskan di Bukhara. Sejak kecil ia telah memperlihatkan intelegensinya yang cemerlang dan kemajuan yang luar biasa dalam menerima pendidikan. Ia telah hafal Al Quran pada usia 10 tahun. Ia adalah seorang yang sangat tekun dalam menimba ilmu.
Pada usia 21 tahun, ketika berada di Khawarazm, ia mulai menulis karyanya yang pertama yang berjudul Al Majmu yang mengandung berbagai ilmu pengetahuan yang lengkap. Kemudia ia melanjutkan menulis buku-buku lain. Buku-buku yang pernah dikarang oleh Ibnu Sina, dihimpun dalam satu buku besar yang berjudul Essai de Bibliographie Avicenna yang ditulis oleh Pater Dominican di Kairo.
Teori-teori anatomi dan fisiologi dalam buku-buku beliau menggambarkan analogi manusia terhadap Negara, dan mikrokosmos (dunia kecil) terhadap alam semesta sebagai makrokosmos (dunia besar). Misalnya digambarkan bahwa hati adalah “pangeran”nya tubuh manusia, sementara paru-paru adalah “menteri”nya. Leher merupakan “jendela”nya sang badan, manakala kandung empedu sebagai “markas pusat”nya. Limpa dan perut sebagai „bumbung“ sedangkan usus merupakan sistem komunikasi dan sistem pembuangan.
Buku karangannya Al Qanun Fit Thibb (Canon of Medicine) memuat pernyataan yang tegas bahwa “darah mengalir secara terus menerus dalam suatu lingkaran dan tak pernah berhenti”. Namun ini belum dapat dianggap sebagai suatu penemuan tentang sirkulasi darah, karena bangsa Cina tidak membedakan antara urat-urat darah halus (vena) dengan pembuluh nadi (arteri). Analogi tersebut hanyalah analogi yang digambarkan antara gerakan darah dan siklus alam semesta, pergantian musim, dan gerakan-gerakan tubuh tanpa peragaan secara empirik pada keadaan yang sebenarnya. Buku ini sejak zaman dinasti Han di Cina telah menjadi rujukan standar karya-karya medis Cina. Buku ini terdiri dari 14 jilid dan telah dianggap sebagai himpunan perbendaharaan ilmu kedokteran.
Ilmu kedokteran modern banyak mendapat pelajaran dari Ibnu Sina, dari segi penggunaan obat, diagnosis, dan pembedahan. Bahkan diperkenalkan penyembuhan secara sistematis yang menjadi rujukan selama tujuh abad kemudian (sampai abad ke 17).
Pada abad ke 12 M Gerard Cremona yang berpindah ke Toledo, Spanyol telah menerjemahkan buku Ibnu Sina ke bahasa Latin. Buku ini menjadi buku rujukan utama di universitas-universitas Eropa hingga 1500 M. Bukunya telah disalin (dicetak) sebanyak 16 kali dalam bahasa Latin 15 edisi dan sebuah edisi dalam bahasa Yahudi (Hebrew). Di samping itu, buku tersebut turut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, dan Italia. Pada abad ke 16 M, buku ini dicetak 21 kali.
Al Qanun Fit Thibb juga digunakan sebagai buku teks kedokteran di berbagai universitas di Perancis. Misalnya Sekolah Tinggi Kedokteran Montpellier dan Louvin yang telah menggunakannya sebagai bahan rujukan pada abad ke 17 M. Sementara itu, Prof. Phillip K. Hitti telah menganggap buku tersebut sebagai „Ensiklopedia Kedokteran“. Buku ini membincangkan serta membahas tentang penyakit saraf. Buku tersebut juga membahas tentang caracara pembedahan yang menekankan tentang keperluan pembersihan luka. Bahkan di dalam buku-buku tersebut juga dinyatakan keterangan dengan lebih jelas di samping hiasan gambar-gambar dan sketsa-sketsa yang sekaligus menunjukkan pengetahuan anatomi Ibnu Sina yang luas.
Penulis-penulis Barat telah menganggap Ibnu Sina sebagai „Bapak Kedokteran“ karena ia telah memadukan teori kedokteran Yunani Hipocrates dan Galen dan pengalaman dari ahli-ahli kedokteran dari India dan Parsi serta pengalaman beliau sendiri.
Beliau telah menghasilkan 250 buah karya dan masih dipakai hingga hari ini, 116 buah karyanya membahas bidang ilmu kedokteran. Banyak karyanya ditulis dalam bahasa Arab dan juga beberapa dalam bahasa Parsi.
Ibnu Sina meninggal pada tahun 1073, saat kembli ke kota yang disukainya, Hamadhan. Walau ia sudah meninggal, namun berbagai ilmunya sangat berguna dan digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang kini diderita umat manusia.